Showing posts with label Pendidikan Agama Islam. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Agama Islam. Show all posts

IMPLEMENTASI METODE MIND MAP DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI MTs MA'ARIF BICAK TROWULAN MOJOKERTO

IMPLEMENTASI METODE MIND MAP DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DI MTs MA'ARIF BICAK TROWULAN MOJOKERTO
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah mata pelajaran
yang diajarkan pada peserta didik dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah sampai
Perguruan Tinggi Islam. Sejarah memiliki peranan penting dalam kehidupan,
dengan sejarah seseorang dapat mengetahui peristiwa penting masa lalu yang
mengandung banyak nilai dan pelajaran bagi hidup seseorang.1 Hal tersebut
menunjukkan bahwa pelajaran tersebut sangat penting dipelajari oleh peserta
didik.
Menurut rochman salah satu siswa di MTs. Ma’arif, pelajaran SKI
dirasakan lebih sulit untuk dipahami dari pada ilmu-ilmu lainnya,2 salah satu
penyebabnya adalah karena sejarah mempelajari sesuatu yang sudah terjadi
tidak dialami oleh peserta didik. Selain itu tidak ada kesesuaian antara
kemampuan peserta didik dengan cara penyajian materi sehingga SKI
dirasakan sebagai pelajaran yang sulit diterima. Salah satu guru MTs Ma’arif
juga mengungkapkan bahwa sulitnya peserta didik memahami pelajaran SKI
karena pelajaran tersebut materinya sangat banyak dan peserta didik dituntut
untuk menghafal dan memahami nama-nama tokoh, tempat dan kosa kata lain
yang berbahasa Arab yang notabene jauh berbeda dengan ejaan bahasa
Indonesia dan terkesan panjang-panjang.

1

2

Tim Penyusun. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Madrasah Tsanawiyah, (Jakarta:
Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam , 2008), 2.
Rochman, Wawancara, Mojokerto, 20 Maret 2015.

1

2

Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup
manusia dalam segala aspek kehidupan di dunia. Pendidikan mempunyai
peranan penting dalam menentukan kemajuan sebuah negara. Oleh karena itu,
jika ingin memajukan sebuah negara terlebih dahulu harus dimulai dengan
meningkatkan kualitas pendidikan yang ada. Pendidikan harus menjadi
prioritas utama pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah melakukan reformasi
dalam bidang pendidikan.3
Dari pengertian pendidikan tersebut, pendidikan memiliki tujuan yang
luhur. Keluhuran tujuan tersebut selayaknya tercermin dari potensi diri yang
tergali, sikap dan tingkah laku yang bermoral dari peserta didik selaku subyek
pendidikan. Pendidikan yang ada tidak hanya melahirkan seseorang yang ahli
dalam bidang tertentu akan tetapi bagaimana seseorang mampu membawa
diri dalam lingkungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan
norma dan aturan yang berlaku.
Dalam UU No. 14 tahun 2005 pasal 7 ayat 1 tentang prinsip-prinsip
profesionalitas guru pada butir d yaitu memiliki kompetensi yang diperlukan
sesuai dengan bidang tugas.4 Selain itu faktor lain yang menyebabkan
pelajaran SKI sulit diterima oleh peserta didik adalah kurang kreatifnya guru
SKI, hal ini disebabkan karena guru SKI kurang menggunakan metode yang
sesuai. Mata pelajaran SKI disampaikan dengan metode ceramah, metode
tersebut hanya akan membuat peserta didik mengantuk. Senada dengan apa
3
4

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, 2.
Mohamad Surya, dkk, Landasan Pendidikan: Menjadi Guru yang Baik (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2010), 79.

3

yang diungkapkan oleh Ibu Uswatun Khasanah selaku guru SKI di MTs
Ma’arif, beliau mengungkapkan bahwa menyampaikan pelajaran SKI dengan
menggunakan metode ceramah hanya akan membuat siswa mengantuk dan
cepat bosan dengan mata pelajaran tersebut, perlu ada kreativitas dari guru
untuk menyampaikan materi SKI sehingga kelas menjadi hidup.5 Guru yang
kurang kreatif dalam menggunakan metode saat menyampaikan materi SKI
akan terkesan membosankan, seperti di salah satu sekolah menengah kejuruan
swasta di Mojokerto yang salah satu guru SKInya hanya menyampaikan
materi dengan metode ceramah dan hanya menyuruh siswa membaca buku,
hal itu membuat peserta didik merasa jenuh dengan pelajaran SKI.6
Pendidikan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
nomor 20 tahun 2003:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mmiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara”.7
Seperti yang telah dijelaskan dalam UU Sisdiknas bahwa proses
pembelajaran dan suasana belajar harus diwujudkan dengan usaha yang sadar
agar peserta didik mampu mengembangkan potensinya dengan baik. Maka
dari itu diperlukan sebuah metode pembelajaran yang sesuai.
Metode mind map atau peta pikiran menjadi pilihan peneliti karena
metode tersebut bekerja sesuai dengan cara kerja otak. Otak manusia terdiri
5

Uswatun Khasanah, Wawancara, Mojokerto, 22 Maret 2015.
Siswa, Wawancara, Mojokerto, 22 Maret 2015.
7
Undang-undang sisdiknas no. 20 tahun 2003.
6

4

dari dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berhubungan dengan
aktivitas-aktivitas seperti bahasa, emosi, imajinasi dan lain-lain. Otak kanan
mempunyai sifat memori jangka panjang jika dibandingkan dengan otak kiri
yang mempunyai ciri khas memori jangka pendek. Metode mind map yang
mengkombinasikan warna dan bentuk akan semakin menarik peserta didik
dalam mempelajari suatu materi, sehingga suatu materi yang diserap akan
lebih banyak dan permanen karena yang bekerja adalah otak kanan.
Selain menumbuhkan kreativitas, mind map juga dapat membentuk
sikap kerja sama yang tinggi antar siswa, caranya dengan mengelompokkan
siswa dengan beberapa anggota disetiap kelompoknya. Siswa yang menjadi
anggota kelompok memiliki tugas masing-masing dalam pembuatan mind
map sampai mempresentasikan tugasnya, sehingga semua siswa dapat
berperan aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu menggunakan metode
mind map juga tidak meyebabkan kegaduan kelas, sehingga kelas lain tidak
merasa terganggu. Itulah beberapa kelebihan metode mind map dibanding
metode lain.8
Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Bicak Trowulan Mojokerto menjadi
sekolah pilihan peneliti karena sekolah tersebut memiliki banyak keunggulan
dibanding dengan madrasah lain di kecamatan Trowulan. Keunggulan itu
diantaranya memiliki guru SKI yang telah mengikuti PLPG, sehingga guru
SKI disana telah menerapkan active learning, maka dari itu pembelajaran
disana tidak monoton. Salah satu active learning yang diterapkan di sekolah

8

Uswatun Khasanah, Wawancara, Mojokerto, 22 Maret 2015.

5

tersebut adalah penggunaan metode mind map. Walaupun sekolah tersebut
berada di desa dan sarana prasarananya kurang memadai, akan tetapi guruguru yang mengampu di sekolah tersebut mampu mengajar dengan baik,
salah satunya adalah mampu menerapkan metode yang baik.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
pembelajaran SKI sehingga dapat memperlancar dan mempermudah proses
pembelajaran dan penyampaian materi kepada peserta didik, sehingga peserta
didik dapat menangkap materi dengan mudah. Selain itu dengan
menggunakan metode mind map nilai-nilai yang terkandung dalam
pembelajaran SKI dapat disampaikan. Siswa mampu merekonstruksi setiap
materi yang disampaikan yaitu mampu mengambil pelajaran dari sebuah
peristiwa sejarah dan menjadikan pelajaran untuk saat ini dan di masa yang
akan datang. Belajar sejarah, khususnya belajar sejarah kebudayaan Islam
tidak sekedar tahu dan hafal nama-nama tokoh dan tempat, tetapi harus lebih
dapat mengambil makna dari setiap peristiwa itu.
Berangkat dari latar belakang inilah penulis merasa tertarik untuk
mengetahui lebih lanjut tentang bagaimanakah Implementasi metode Mind
Map dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah
Tsanawiyah Ma’arif Bicak Trowulan Mojokerto.

6

B. Ruang Lingkup Penelitian
Adanya ruang lingkup dalam suatu penelitian sangatlah diperlukan,
agar penelitian yang dilakukan itu lebih baik, terfokus pada substansi
persoalan yang akan diteliti, sehingga tujuan dari penelitian dapat terarah
dengan baik.
Adapun dalam penelitian ini peneliti membatasinya pada implementasi
metode Mind Map dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di
Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Bicak Trowulan Mojokerto, yang meliputi:
1. Pengertian Metode Mind Map.
2. Pengertian pembelajaran sejarah kebudayaan Islam.
3. Faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam penerapan metode
Mind Map.
4. Penelitian dilakukan mulai tanggal 1 April sampai dengan 30 April 2015.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka pokok masalah yang
perlu mendapat jawaban dan kejelasan melalui penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana implementasi metode mind map dalam pembelajaran sejarah
kebudayaan Islam di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Bicak Trowulan
Mojokerto?
2. Faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan penghambat dalam
implementasi metode mind map dalam pembelajaran SKI di Madrasah
Tsanawiyah Ma’arif Bicak Trowulan Mojokerto?

7

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dikemukakan
tujuan dari penelitian ini, adalah :
a. Untuk mengetahui implementasi metode mind map dalam pembelajaran
sejarah kebudayaan Islam di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Bicak
Trowulan Mojokerto.
b. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat implementasi
metode mind map dalam pembelajaran sejarah kebudayaan Islam di
Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Bicak Trowulan Mojokerto.
2. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kegunaan penelitian ini
adalah :
a. Kegunaan Teoritis
Memberikan tambahan wawasan secara teoritis terkait dengan
pelaksanaan implementasi metode mind map dalam pembelajaran
sejarah kebudayaan Islam juga sebagai pijakan bagi peneliti untuk
dikembangkan, baik bagi peneliti sendiri maupun peneliti lain.
b. Kegunaan Praktis
1) Sebagai motivasi untuk melakukan variasi pembelajaran sesuai
dengan materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang akan di
ajarkan agar proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan
memperoleh hasil yang diinginkan.

8

2) Sebagai panduan bagi guru Sejarah Kebudayaan Islam, peneliti,
maupun pihak lain yang berkepentingan dalam implementasi metode
mind map dalam pembelajaran sejarah kebudayaan Islam.

E. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan kajian mengenai penelitian-penelitian
terdahulu. Hal ini dilakukan untuk menghindari pengulangan penelitian
sebelumnya. Berdasarkan penulusuran hasil-hasil penelitian skripsi yang ada,
ditemukan beberapa skripsi yang relevan dengan penelitian ini, antara lain :
1. Skripsi Afifah Tun Niswah (07410036), jurusan Pendidikan Agama Islam
tahun 2012, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang
berjudul Penerapan Metode Mind map Sebagai Upaya Meningkatkan
Motivasi dan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Fiqih Kelas VIIIA
MTsN Ngemplak, Sleman. Skripsi tersebut menjelaskan adanya masalah
mengenai penggunaan metode konvensional seperti ceramah, sehingga


Lengkapnya Langsung saja download file berikut ini gratis

Klik Download Via Userscloud
Klik Download Via Tusfiles

Itulah beberapa artikel skripsi thesis atau materi yang bisa anda gunakan untuk bahan tugas dan ajar, semoga bermanfaat.

IMPLEMENTASI DUALISME KURIKULUM DI SMK UNGGULAN NAHDATUL ULAMA’ MOJOAGUNG ( Studi Kasus Implementasi Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam )

IMPLEMENTASI DUALISME KURIKULUM DI SMK UNGGULAN NAHDATUL ULAMA’ MOJOAGUNG ( Studi Kasus Implementasi Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam )

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tuntutan akan sumberdaya manusia yang unggul merupakan kebutuhan
umat manusia di seluruh belahan dunia. Menjelang diberlakukannya
liberalisasi disegala bidang, tuntutan tersebut terasa sangat mendesak.
Untuk memenuhi semua itu, pendidikan berperan sebagai gerbang utama.
Maka sering potensi seseorang diukur dengan pendidikannya, sebagai mana
yang disebutkan dalam surat Al mujaadilah ayat 11

           
Artinya : Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat.1

Sebagai salah satu elemen terpenting dalam penyelenggaraan
pendidikan, kurikulum merupakan usaha mewujudkan tuntutan tersebut.2
Dalam penataan sitem pendidikan kurikulum mempunyai peran yang sangat
besar, kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pembaharuan sistem pendidikan akan membawa arti jika dilakukan dengan
melakukan penataan kurikulum.
Indonesia adalah sebuah Negara berkembang yang terus menerus
berupaya meningkatkan kualitas pendidikanya, baik secara konvensional

1
2

Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemah, ,(Surabaya : Mahkota. 2005),343.
Nana Syaodah Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek (Bandung: Remaja
Rosda Karya, 2001), 1.

1

2

maupun inovatif, hal tersebut dapat dilihat dari dinamika perkembangan
kurikulum di Indonesia dari masa kemasa,3 perkembangan tersebut
meghasilkan beberapa kurikulum yang pernah diterapkan dalam dunia
pendidikan di Indonesia diantaranya, Rencana Pelajaran Tahun 1947,
Rencana Pelajaran Terurai Tahun 1952, Kurikulum Tahun 1968, Kurikulum
Tahun 1975 dengan prinsip bidang manajemen yaitu Managemen By
Objective (MBO), Kurikulum Tahun 1984 atau yang lebih dikenal dengan
model Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Kurikulum Tahun 1994 dan
Suplemen Kurikulum Tahun 1999, Kurikulum Tahun 2004 yaitu Kurikulum
Berbasis Kopetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Tahun 2006 dan yang terbaru adalah Kurikulum Berbasi Karaker Tahun
2013.4
Kurikulum pendidikan diperbarui untuk dikembangkan dengan
menonjolkan aspek yang dipandang lebih baik dan meminimalisir
kekurangan atau kelemahan dari kurikulum sebelumya.5 Seperti halnya
Penyempurnaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun
2006 dengan Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 dimaksudkan untuk
lebih menyiapkan peserta didik memiliki karakter dan budaya bangsanya.
Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 dilaksnakan secara bertahap
dan terbatas pada satuan pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Mmenengah

3
4

5

Djuju Sudjana, Ilmu Pendidikan Praktis,( Bandung : PT Imperial Bhakti Utama 2007 ), 97.
Mulyasa Pengembangan Dan Implementasi Kurikum 2013,( Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Offset 2014), 9.
Fadillah, Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran di SD/MI SMP/MTs & SMA/MA,
(Yogyakarta : Ar- Ruzz Media 2014), 5.

3

Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan di 295
kabupaten di seluh indonesia dan pada tahun pelajaran 2014/2015 akan
diimplementasikan pada semua satuan pendidikan, Sekolah Dasar
/Madrasah Ibtidaiah pada kelas I, II, IV dan V, Sekolah Menengah Pertama
/Madrasah Tsanawiyah pada kelas VII dan VII dan Sekolah Menengah
Aatas/Madrasah Aliah /Madrasah Aliah Kejuruan Pada kelas X dan XI di
seluruh indonesia.6
Ketika pelaksanaan Kurikulum 2013 sedang berjalan, Menteri
Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah, RI mengeluarkan surat
edaran implementasi Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 mengenai
akan diadakanya evaluasi secara menyeluruh dan lengkap pada Kurikulum
Berbasis Karakter Tahun 2013 sehingga memutuskan untuk menghentikan
pelaksanaan Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 pada sekolah yang
masih menjalankanya selama satu semster dan supaya kembali pada
kurikulum Tingkat Satuan Pendididkan (KTSP) Tahun 2006, tetap
menerapkan Kurikulum Berbasis Karakter 2013 pada sekolah yang telah
melaksanakanya selama tiga semster.7 Dengan kata lain terdapat dua
kurikulum yang dilaksanakan pada sebuah lembaga pendidikan.

6

7

Surat edaran kementrian pendidikan dan kebudayaan, nomor 17 9342/MPK/PK/2014 tentang
pelakasanaan kurikulum 2013http://www.kopertis12.or.id/2013/06/07/surat-mendikbudtentang-implementasi-kurikulum-2013.html#sthash.QSYsAayk.dpuf, diakses pada 17 januari
2015
Surat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tentang pelaksanaan Kurikulum 2013 nomor
156928 MPK.A/PK/2014http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/node/1855 diakses pada 17
januari 2015

4

SMK Unggulan NU Mojoagung merupakan satu lemabaga
pendidikan yang menerapkan Kurikulum Berbasis Karakter 2013 dan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006, yaitu
Kurukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 pada kelas XI
dan XII dan Kurikulum Berbasis Karakter 2013 pada kelas X dari
pemaparan diatas maka peneliti ingin mengetahui bagaimana dinamika
implementasi kurikulum Berbasis Karakter 2013 di SMK Unggulan NU
Mojoagung
B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini dapat kami uraikan sebagai berikut:
1. Definisi Operasional
a. Implementasi

: pelaksanaan; penerapan 8

b. Dualisme

: paham bahwa di kehidupan ini ada dua prinsip

yang saling bertentangan 9
c. Kurikulum

: seperangkat rencana dan pengaturan tujuan, isi

dan materi pembalajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu.10

8

9
10

Departemen Pendidikan Nasioanl Kamus Besar Bahasa Indnesia ( Jakarta : Balai Pustaka,
2001), 627.
Ibid., 277.
Lukmanul Hakiim , Perencanaan Pembelajaran, ( Bandung: Cv Wacana Prima 2008),15.

5

d. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006:
kurikulum oprasional yang disusun oleh dan dilaksankan di masing
- masing satuan pendidikan.11
e. Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 : adalah kurikulum yang
berbasis karakter dan berbasis kopetensi dengan pendekatan tematik
dan kontekstual.12
2. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini diantaranya mengeanai
dualisme kurikulum yaitu pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 dan Kurikulum Berbasis Karakter
2013. Dualisme yang dimaksud dalam penelitian ini terkait
pengelolaan, pengembangan kurikulum yang mencakup perencanaan,
pengorganisasian,

pelaksanaan,

evaluasi

dan

perbaikan,

yaitu

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 dan
kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013. Adapun Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 dilaksanakan pada kelas XI dan
kelas XII, sedangkan Kurikulum Berbasis Karakter Tahun
dilaksanakan pada kelas X.

11
12

Ibid., 15.
Mulyasa, Pengembangan Dan Implementasi Kurikum, 45.

2013

6

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka permasalahan yang
dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Implementasi Dualisme Kurikulum SMK Unggualn Nu
Mojoagung ?
2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi
Dualisme Kurikulum di SMK Unggulan NU Mojoagung ?
D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini mempunyai
tujuan antara lain :
a. Untuk menegetahui implementasi

Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 dan Kurikulum Berbasis Karakter
2013 di SMK Unggulan NU Mojoagung.
b. Untuk megetahui faktor pendukung dan faktor penghambat dari
pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun
2006 dan Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 di SMK
Unggulan NU Mojoagung
2. Manfaat penelitian
Berkaitan dengan tujuan penelitian maka manfaat penelitian ini
adalah :
a. Sumbangan pemikiran bagi dunia ilmu pengetahuan tentang
dinamika implementasi kurikulum dalam pendidikan.

7

b. Bagi institusi :
1) Bagi Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU)
sebagai bahan referensi tugas akhir atau Skripsi.
2) Bagi penulis agar dapat menyumbangkan hasil penelitian
tentang dinamika pelaksan dualisme kurikulum, serta bahan
informasi

dan

dokumen

dalam

mengembangkan

dan

meningkatkan kualitas pendidikan.
E. Penelitian Terdahulu
1. Kusuma Wardani, Skripsi ini dengan judul penelitian perbandingan
antara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006
dengan Kurikulum Berbasis Karakater Tahun 2013 pada tingkat
SMA. Dengan hasil penelitian Standart isi materi PAI dalam
Kurikulum Berbasis Karakter Tahun 2013 cakupanya lebih luas
dibandingkan dengan KTSP Tahun 2006 dengan 3 jam pelajaran
minggu. Perbedaan standart isi antara materi PAI antara kedua
kurikulum tersebut terletak pada jumlah jam pelajaran/minggu,
silabus, prosespembelajaran, dan basis kurikulum. Sedangkan
persamaanya terletak pada aspek - aspek yang dipelajari dalam
tujuan pembelajaran PAI yakni untuk membentuk toleransi dan
kerukunan antar umat beragama serta untuk mengembangkan
akhlak mulia dan budi pekerti.13

13

Kusuma Wardani, Perbandingan Antarav Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006
Dengan Kurikulum 2013 Kajian Tentang Standart Isi Materi Pendidikan Agama Islam (
Skripsi Unipdu Jombang 2014)

8

2. Imroatul Hasanah, Skripsi ini degan judul penelitian implementasi
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) berbasis budaya dan
karekteristik bangsa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di
SMP 3 RSPI peterongan jombang tahun pelajaran. Dengan hasil
penelitian bahwa hasil implementasi KTSP berbasis budaya dan
berkarakter bangsa pada bidang studi PAI di SMP 3 RSBI
Peterongan Jombang Tahun pelajaran 2011/2012 telah dapat
dilaksanakan secara bertahap dan dikembangkan walaupun ada
beberapa hal sebagai penghambat yang belum teratasi dan perlu
dicari pemecahanya dengan melibatkan unsur pemerintahan,
masyarakat, guru, dan Kepala Sekolah Sebagai pelaksana
Pendidikan.14
Peneliti pertama pada penelitia terdahulu membahsa
mengenai perbandingan standart ini pada kurikulum 2013 dan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidiakn (KTSP)Tahun 2006,
sedangkan peneliti kedua membahas tentang implementasi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006,
sedangkan pada penelitian ini akan membahas mengenai
implementasi dualisme kurikulum pada satu lembaga pendidikan
yaitu implementasi Kurikulum Berbasis Kopetensi Tahun 2013 dan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Tahun 2006 yaitu

14

Imroatu Hasanah Implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) Berbasis
Budaya Dan Karakter Bangsa Pada Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMPN 3
Peterongan Jombang ( skripsi, unipdun Jombang 2012)

9

terkait pengelolaan dan pengembangan kurikulum yang mencakup
perencanaan, pelaksanaan, kepemimpinan, evaluasi dan perbaiakan.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah pemahaman dalam penelitian ini, maka dalam
pembahasanya peneliti menggunakan sistematika pembahasan.
BAB I

: Pendahuluan. Dalam bab ini membahas Latar Belakang Masalah,
Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Keguanaan Penelitian,
Sistematika Pembahasan.

BAB II

: Landasan Teoritis. Berisi tentang, Tinjauan Kurikulum, Kurikulum
Berkarakter Tahun 2013, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) Tahun 2006, Implementasi dualisme kurikulum.

BAB III : Metode penelitian. Dalam bab ini berisi tentang Desain Penelitian,
Subyek Penelitian,Metode Pengumpulan Data dan Teknik Analisis
Data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan.
BAB V

: Penutup, berisi Kesimpulan dan Saran.

PENGARUH PENGUASAAN NAHWU SHOROF TERHADAP PEMAHAMAN QUR’AN HADITS SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH BAHRUL ULUM GADINGMANGU PERAK JOMBANG

PENGARUH PENGUASAAN NAHWU SHOROF TERHADAP PEMAHAMAN QUR’AN HADITS SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH BAHRUL ULUM GADINGMANGU PERAK JOMBANG
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Tidak dapat dipungkiri lagi adanya asumsi dari beberapa kalangan umat
Islam  Indonesia  yang  menyatakan  kurang  puas  bahkan  meragukan  kemampuan
siswa
-
siswi  Madrasah  Tsanawiyah  dan  Aliyah  dalam  bidang  ilmu
-
ilmu  alat
bahasa  arab,  yakni  ilmu  nahwu  dan  shorof  baik  secara  lisan  maupun  tulisan,
padahal ilmu nahwu shorof merupakan kunci yang efektif dalam mempelajari dan
memahami Qur’an Hadits. Sebagaimana pendapat Syekh Kafrawy dalam kitabnya
yang  berjudul  ”Syarakh  Mukhtas
hor  Matan  Jurumiyah”    Beliau  mengatakan
sebagai berikut :
1
Artinya :
Sebagian  besar  dari  manusia  banyak  yang  suka/me
nganggap  cukup  dengan
kalimat mukhtashor (kalimat yang ringkas, yang sedikit lafadh nya akan tetapi
1
Syekh Maftuhin,
Tata Bahasa Arab
(Lamongan : Al minhatul Ilahiyahm, 1989), 13.
1
2
mengandung  pengertian  yang  ba
nyak  dan  padat)  sedangkan  semua  manusia
sangat  dituntut  dan  di
perintahkan  oleh  agama  untuk  memelihara  dan  menjaga
ilmu bahasa Arab agar mereka bisa memahami arti dan isi kandungan alqur'an
dan hadist Nabi S.A.W yang rumit dan yang sulit.
Pada  sisi  lain,
dampak  dari  minimnya  penguasaan  Ilmu  Nahwu  Shorof
tersebut   menjadikan   alumnus   Madrasah   Tsanawiyah   dan   Madrasah   Aliyah
menjadi  lemah  dalam  memahami  kitab
-
kitab  yang  berbahasa  arab  yang  sering
disebut  dengan  kitab  Kuning,  yaitu  kitab
-
kitab  yang  masih  bersih
dari  harokat,
misal kitab
-
kitab tafsir, kitab hadits dan lain
-
lain.
Untuk itu jika dijumpai mahasiswa fakultas tarbiyah atau fakultas lainnya
lemah   dalam   segi   materi   bahasa   arabnya,   maka   kelemahan   tersebut   bukan
sepenuhnya   pada   fakultas   yang   bersangkutan,
melainkan   juga   pada   jenjang
sekolah sebelumnya (Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliyah).
Mengingat  pentingnya  ilmu  nahwu  shorof  sebagai  salah  satu  cabang  dari
ilmu   bahasa   arab   sehingga   M.   Syakir   menganjurkan   untuk   mempelajarinya
dengan pesan sebagai beri
kut :
وتعم علوم اللغة العربية للتقوى على ادارك الحكم والمواعظ التى استودعهاالله تعالى
فى كتاب الله الكريم واجاهاعلي لسان رسول الله صلعلم
2
2
Muhamad Syakir,
Washoya
(Surabaya : Al Hikmah, tt), 30.
3
Artinya:  “Belajarlah  ilmu
-
ilmu  bahasa  arab   agar  mampu  menggali  hikmah
-
hikmah dari ajaran
-
ajaran yang tersimpan dalam Kitabul
lah yang Mulya
serta   apa   yang  diperintahkan  oleh  Allah  melalui  lisan  Rosululloh
SAW.”
Dengan   upaya   menanggulangi   kelemahan   penguasaan   nahwu   shorof
tersebut,   maka   sudah   sewajarnya   apabila   Madrasah
-
madrasah   di   pesantern
diajarkan  nahwu  shorof  secara  khusus  s
ebagai  salah  satu  upaya  peningkatan
kualitas siswa.
Madrasah  Tsanawiyah  “Bahrul  Ulum”  Gadingmangu  adalah  salah  satu
lembaga pendidikan formal yang memasukkan materi nahwu shorof sebagai salah
satu  materi  dalam  muatan  lokal  disamping  pelajaran  membaca  kitab
kuning  dan
aswaja,  yang  baru  berjalan  5  tahun,  yaitu  terhitung  sejak  tahun  pembelajaran
2008
-
2009.
Dalam pemahaman Qur’an Hadist kita diharuskan untuk bisa memahami
nahwu  shorof  serta  makna  yang  terkandung  dalam  sebuah  kitab.  Dalam  hal  ini
tingkat  pengua
saan  nahwu  shorof    siswa  MTs  Bahrul  Ulum  Gadingmangu  Perak
Jombang masih kurang, sehingga dalam pemahaman Qur’an Hadist masih kurang
sehingga prestasi dalam pembelajaran masih dibawah KKM 
Maka dari itu, penulis ingin mengetahui lebih dekat eksistensi keb
erhasilan
Penguasaan  nahwu  shorof
kaitannya dengan pemahaman Qur’an Hadits siswa
-
siswi sehingga menarik untuk dijadikan sebuah judul yang berbunyi “Pengaruh
4
Tingkat Penguasaan Nahwu Shorof Terhadap Tingkat Pemahaman Qur’an Hadits
Siswa Di Madrasah Tsanawiy
ah Bahrul Ulum Gadingmangu Perak Jombang”.
B.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang   lingkup   penelitian   bertujuan   untuk   mencegah   terjadinya
penyimpangan  dari  pokok  permasalahan  yang  diteliti.  Adapun  ruang  lingkup
dalam penelitian ini adalah:
1.
Variabel Penelitian
Var
iabel dalam penelitian ini terdiri dari 2 variabel, yaitu variabel bebas dan
variabel  terikat.  Variabel  bebas  dalam  penelitian  ini  adalah  Penguasaan
Nahwu   Shorof      (x),   sedangkan   variabel   terikatnya   adalah   tingkat 
pemahaman Qur’an Hadist siswa (y).
2.
Subyek
penelitian adalah siswa kelas VII MTs Bahrul Ulum
Gadingmangu
Perak Jombang
.
3.
Lokasi Penelitian
Penelitian   dilaksanakan   di   MTs   Bahrul   Ulum
Gadingmangu   Perak
Jombang